Thursday, November 24, 2022
2 IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA 21 Tinjauan Literatur
TRANSCRIPT 2.1.1. Pengertian Komik pictorial and other image in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer"(4). McCloud mendefinisikan komik sebagai gambar-gambar dan lambang- lambang yang memiliki posisi berdekatan atau bersebelahan dalam urutan tertentu yang bertujuan untuk memberikan informasi atau untuk mencapai tanggapan estetis dari para pembaca. Pemaknaan komik, sampai saat ini masih belum memiliki titik temu. Belum ada satu kata sepakat dalam pemaknaan komik diantara para peneliti dan pemerhati komik. Timbulnya perbedaan definisi ini dikarenakan perbedaan persepsi dan pengamatan peneliti terhadap media ini. Peneliti komik cenderung memberikan definisi sesuai dengan penekanan fokus kajian masing- masing. Sebagian peneliti, mementingkan kolaborasi antara gambar dan teks, adapula yang mementingkan nilai kesusatraan, adapula yang mementingkan nilai gambar, bahkan, ada yang lebih mempertimbangkan sifat kesinambungannya (Sequental). banyak istilah dalam penyebutan komik. Beberapa contoh istilah penyebutan komik oleh beberapa peneliti, Picture Stories (Rodolphe Topffer), Pictorial Narratives (Frans Masereel dan Lynd Ward), Picture Novella (Drake Waller), Illustrories (Charles Biro), Picto-fiction (Bill Gaine), Sequental art/Graphic Novel (Will Eisner), dan Nouvelle Manga (Frederic Boilet). Namun, sebagai intinya, komik adalah bentuk lahir dari hasrat manusia untuk menceritakan pengalamannnya melalui bentuk gambar dan tanda. (Boneff 16) Dalam Bahasa Indonesia sendiri, komik memiliki definisi yang sama dengan comic (Bahasa Inggris), karena banyak suku kata bahasa Indonesia yang mengadaptasi atau menyerap bahasa-bahasa lain seperti Bahasa Inggris, Portugis, Arab, Jawa, dan bahasa-bahasa suku lokal Indonesia. Namun, dalam perjalanan sejarah komik di Indonesia, muncul pula istilah 'tjergam' yang merupakan akronim dari 'tjerita bergambar'(Boneff 9). 2.1.2. Fungsi dan Peranan Komik Dalam Kehidupan Sosial Komik saat ini banyak dipergunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, sehingga fungsi komik pun menjadi beragam, tidak hanya sebatas media hiburan atau rekreasi.Komik saat ini dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, namun tidak jarang orang dewasa menjadi konsumennya.Komik dapat menjadi sebuah media hiburan, media promosi atau adveritising, juga sebagai media pembelajaran, maupun media propaganda atau kritik sosial. 1. Komik sebagai media hiburan, komik terutama komik fiksi murni hanya untuk menghibur pembacanya, cerita yang diangkat beragam, mulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan pembacanya, hingga fantasi atau khayalan tingkat tinggi. Komik ini pada umumnya dirancang sebagai bacaan ringan untuk mengisi waktu luang dan untuk mengembangkan daya imajinasi pembacanya. pesat dan tuntutan akan media baru yang dapat membantu sebuah produk atau perusahaan menyampaikan pesan akan selalu ada, dan komik menjadi salah satu media yang dipilih untuk menyampaikan informasi itu. Saat ini di Indonesia sendiri, ada banyak perusahaan menggunakan komik terutama komik strip untuk mempromosikan produk atau jasanya, dan pada umumnya target yang dituju adalah golongan anak-anak maupun remaja. 3. Komik sebagai media pembelajaran, komik saat ini digunakan pula sebagai media untuk pembelajaran disekolah. Materi pembelajaran yang dikomikkan pun beragam, mulai dari fisika, biologi hingga sejarah. Model pembelajaran dengan komik mulai banyak digunakan, hal ini disebabkan karena anak-anak lebih menyukai cerita bergambar dibandingkan yang hanya berisi teks. 10 Universitas Kristen Petra 4. Komik sebagai media kritik sosial, komik-komik seperti Benny Mice, Panji Koming, Kostum dan Tin Tin, diguanakan sebagai media komikus untuk mengkritik situasi sosial yang ada disekelilingnya. Media komik digunakan karena pada dasarnya komik mengangkat cerita dengan ditambah humor atau banyolan, sehingga tidak terlalu dianggap sebagai sesuatu yang serius, yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik, namun lebih menjadi sebuah refleksi yang lucu dan menarik. memuat unsur penceritaan dan menyatukan verbal (teks) dengan visual. Contoh komik tertua yang paling dikenal manusia adalah ukiran atau lukisan di makam Raja Mesir kuno, didalam pahatan batu tersebut ada gambar- gambar yang disusun membentuk sebuah jalan cerita dengan huruf-huruf hieroglyph ditempatkan disekeliling gambar sebagai keterangan cerita dari sebuah gambar atau panel. Diantara semua bentuk komik yang ada di masa lampau, ada satu peristiwa penting yang memiliki dampak yang luar biasa dalam sejarah komik, penemuan mesin cetak. Dengan ditemukannya mesin cetak, bentuk seni yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi kaum konglomerat dan pejabat, sekarang dapat dinikmati oleh semua orang. Kerumitan cerita bergambar mulai berkembang dan mencapai puncak keemasan ditangan cetakan William Hogarth. Salah satu karya Hogarth yang terkenal berjudul A Harlot's Progress, yang diterbitkan tahun 1731. Walaupun hanya terdiri dari beberapa lembar, gambar-gambar ini menceritakan kisah yang kaya akan detail dan diilhami oleh keprihatinan sosial yang mendalam.Cerita Hogarth awalnya dipamerkan sebagai rangkaian lukisan kemudian dijual sebagai hasil karya ukiran. Lukisan dan ukiran tersebut kemudian dirancang untuk dipandang secara berdampingan dan berangkaian membentuk sebuah jalan cerita yang runtut. A Harlot's Progress dan cerita lanjutannya A Rake's Progress menjadi sangat populer masa 11 Universitas Kristen Petra itu.Untuk melindungi bentuk baru dari karya itu, maka disahkanlah Undang- Undang Hak Cipta. Konsep komik modern yang ada saat ini berasal dari pemikiran dan pena seorang guru dan seniman sekaligus penulis Swiss,Rodolphe Töpffer ( ). Salah satu cerita bergambar karya perdananya berjudul Histoire de Mr. Vieux Bois, dalam 30 halaman berisikan 158 panel. Karya ini dibuat pada tahun 1827 namun baru dipublikasikan secara luas 10 tahun kemudian, namun bentuknya telah dirombak dan digambar ulang dalam satu baris dan dibuat menjadi 88 halaman, dan pada waktu yang sama, 2 karya Topffer yang lain telah dicetak. Karya ini diakui oleh Topffer dibuat hanya sekedar menjadi hiburan, sebagai hobi yang sepele. Karya ini dibuat memiliki tahapan cerita dan telah menggunakan sistem balon kata yang dipakai di komik-komik modern, hanya saja balon kata hanya berupa kotak keterangan yang diletakkan dibawah gambar di tiap panelnya. Bentuk ini menginspirasi komikus lain dalam mengembangkan karyanya. Dalam perkembangannya, pada tahun 1845, penggambaran satir yang sering muncul dalam surat kabar maupun majalah diberi sebuah nama baru, kartun. Dalam dunia seni, istilah kartun, atau Cartoon dalam bahasa Inggris digunakan untuk mendeskripsikan sketsa pensil yang belum diberi warna. Sejak saat itu perkembangan komik mulai meluas ke berbagai negara di dunia, seperti Jepang, China, Korea, Eropa dan Indonesia. 2.1.3.1. Sejarah Komik Indonesia Menurut NCA dalam harian Kompas edisi 20 Maret 2004, Perjalanan komik Indonesia tampaknya tidak akan lepas dari tradisi bercerita atau berkomunikasi dengan simbol maupun gambar. Di Indonesia sendiri, penggunaan gambar-gambar sebagai media bercerita bisa ditemukan pada banyak benda bersejarah, seperti prasasti, candi, dan sebagainya. Sebagai contoh, pada Candi Borobudur yang diduga dibangun pada masa pemerintahan Raja Syailendra dari Mataram pada tahun Masehi. Di candi tersebut dapat ditemukan 1.460 adegan pada pahatan relief tentang ajaran Buddha Gautama. Sumber: ugm.ac.id disebut-sebut pertama kali berkembang di media massa. Hal ini diungkap oleh Marcel Bonnef, yang pernah melakukan penelitian tentang komik di Indonesia. Marcel memaparkan, media massa memang merupakan sarana penyebarluasan pesan yang ampuh, termasuk komik. Sebagai salah satu contoh kasus, fenomena yang terjadi di Amerika Serikat. Di negera tersebut, komik-selanjutnya dikenal dengan sebutan komik strip lahir dan dibesarkan oleh media cetak. Hal serupa terjadi di Indonesia. Ketika masih dikenal sebagai Hindia Belanda, komik diketahui pertama kali muncul pada tahun 1930-an di media- media cetak. Ada dua jenis komik yang menonjol pada masa itu, yaitu komik Barat dan Timur. Komik Barat merupakan komik dengan tokoh-tokoh utama umumnya adalah superhero dan berasal dari Eropa maupun Amerika Serikat. Adapun komik Timur merupakan komik-komik yang berasal dari negara- negara di Asia, terutama Cina pada masa itu. Pada tahun 1930, surat kabar besar berbahasa Melayu ketika itu, Sin Po, memuat komik strip berisi berbagai petualangan tokoh jenaka karya komikus muda, Kho Wang Gie. Selanjutnya, Kho Wang Gie menciptakan tokoh terkenal Put On yang juga dimuat di Sin Po. Komik Put On dimuat hingga tahun 1960 di Sin Po, yaitu hingga surat kabar tersebut dilarang terbit. Setelah Put On, sebuah kelompok media Melayu Tionghoa, Keng Po, juga disebutkan sempat mencoba mengorbitkan tokoh serupa, Si Tolol, dalam mingguan Star Magazine. Usia Si Tolol tak selama Put On, hanya berkisar tiga tahun ( ). Mingguan lain, Star Weekly, juga memunculkan tokoh komik lain, Oh 13 Universitas Kristen Petra Koen. Namun, tak beda dengan Si Tolol, tokoh komik ini pun tak mampu menandingi kepopuleran Put On. Sumber: raniariana.com Selain komik-komik yang bernuansa Asia, pada tahun 1938 di sebuah harian berbahasa Belanda, De Java Bode, muncul komik berjudul Flippie Flink karya Clinge Doorenbos. Komik ini ditujukan untuk anak-anak. Selain De Java Bode, mingguan De Orient tercatat sebagai media cetak yang memuat komik petualangan luar angkasa terkenal, Flash Gordon. Kemudian, dari hasil penelusuran yang dilakukan Bonnef, selain media cetak berbahasa Belanda, beberapa surat kabar berbahasa Melayu pun turut menampilkan komik-komik Barat. Sampai tahun 1942, komik Barat maupun Timur terlihat berjalan maju berdampingan. Pada masa pendudukan Jepang, banyak pers yang diberangus dan dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda Asia Timur Raya. Masa ini menjadi masa suram pertama bagi industri komik Indonesia. proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945. Namun, setelah pendudukan Jepang berakhir, penerbitan komik masih suram. Pada awal-awal kemerdekaan, banyak kesulitan yang masih membebani Indonesia. Salah satu kesulitan yang sangat berpengaruh pada industri percetakan adalah soal kertas. Keadaan ini terus berlangsung hingga awal tahun 1950. Di pihak lain, komik-komik Barat kembali berjaya. Pada periode setelah tahun 1950-an, komik di Indonesia didominasi cerita-cerita Amerika Serikat. Selain Flash Gordon, komik Amerika lainnya juga banyak dimuat di media cetak. Beberapa di antaranya adalah Tarzan, Rip Kirby, Phantom, dan 14 Universitas Kristen Petra Johny Hazard. Masa ini, selain disebut sebagai masa kejayaan komik-komik superhero Amerika, juga tercatat sebagai dimulainya penerbitan komik dalam bentuk buku. Beberapa penerbit yang tercatat mengeluarkan komik dalam bentuk album adalah Gapura, Keng Po, dan Perfectas. Tokoh-tokoh superhero dalam komik Amerika ini juga berpengaruh pada karya komikus lokal. Kemunculan komik superhero versi lokal ini dipelopori oleh Sri Asih karya RA Kosasih yang diterbitkan oleh Melodie pada tahun 1954. Perkembangan selanjutnya, komik-komik tiruan superhero Amerika, terutama Sri Asih, mendapat sorotan keras kalangan pendidik. Menurut RA Kosasih, pencipta Sri Asih, sorotan tersebut bermula dari tulisan di salah satu surat kabar yang menyebutkan cerita tersebut tidak mendidik, terutama untuk anak-anak. Sewaktu Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, upaya-upaya untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan melepaskan diri dari pengaruh kebarat-baratan digalakkan. Gambar 2.3 Cuplikan Komik Mahabarata Karya Alm. RA Kosasih Sumber: google.com komikus dan penerbit. Industri komik kemudian beralih pada komik wayang, dipelopori komik Mahabarata karya Ardi Soma. Pada masa banyak 15 Universitas Kristen Petra sorotan karena komik imitasi superhero Amerika kemudian menghasilkan karya monumental Mahabarata. Sejak pertengahan tahun 1950, komik wayangnya berhasil memikat banyak kalangan. Di masa ini, keberhasilannya bahkan mampu menandingi kepopuleran komik-komik Barat. Bahkan, hingga tahun 1960, komik wayang mampu mendominasi industri komik di negeri ini. Namun, setelah tahun 1960, minat orang terhadap komik wayang menurun. Sampai dengan tahun 1968, komik-komik yang terbit kebanyakan merupakan edisi cetak ulang. Selain komik wayang, terdapat beberapa ragam komik yang juga banyak terbit sampai dengan awal tahun 1980-an. Jenis-jenis komik tersebut, di antaranya, komik silat semacam serial Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH, Jaka Sembung karya Djair, Hans Jaladara dengan Pendekar Panji Tengkorak-nya, Mandala, Siluman Sungai Ular karya Man, maupun komik- komik jenis roman remaja, roman sejarah, superhero, atau science fiction, komik humor, dan komik dongeng yang dikenal dengan sebutan komik Andersen (dari nama pendongeng dunia Hans Christian Andersen). Era 1980 hingga sekarang disebut-sebut sebagai masa tersuram dalam perkembangan komik lokal. Semakin beragamnya jenis hiburan yang muncul-mulai dari radio, televisi, hingga film-film yang bisa disaksikan melalui berbagai media dan perangkat-sangat berpengaruh terhadap penurunan perkembangan komik di Indonesia. Ditambah lagi dari sisi industri penerbitan terdapat beberapa peristiwa yang pada akhirnya mematikan komik-komik lokal. Awal kehancuran pertama yang pernah dirasakan penerbit berkaitan dengan keberadaan bursa buku di Pasar Senen, Jakarta, pada tahun 1980-an. Salah satu penerbit komik klasik yang masih bertahan hingga kini, Maranatha Bandung, mengungkapkan soal ini. Pasar Senen memang memiliki area khusus yang pada masa tersebut menjadi bursa bagi komik. Para penerbit dari berbagai daerah, terutama Bandung dan Medan, mengirimkan sebagian besar komik terbitannya di tempat itu. Awalnya, bursa buku ini menjadi tambang 16 Universitas Kristen Petra emas bagi para penerbit. Namun, belakangan banyak pedagang yang mulai menerbitkan komik dan menjual dengan harga jauh di bawah harga pasaran. Alhasil, banyak penerbit bertumbangan karena bukan hanya tidak mampu mengimbangi harga jual di bursa Senen, namun juga karena banyak komikus yang lari ke penerbit-penerbit Bursa Buku Senen. Selain keruntuhan banyak penerbit di Bursa Buku Senen, di sisi lain komik-komik terjemahan kembali mendominasi pasar. Komik-komik dari Eropa, seperti Tin Tin, Asterix & Obelix, Nina Komik Top, Storm, Trigan, Tanguy & Laverdure, dan masih banyak lainnya, perlahan tapi pasti "menyerbu" pasar. Masuknya komik-komik Eropa ini diperkuat dengan keberadaan toko-toko buku besar berjaringan luas, seperti Gramedia dan Gunung Agung. Belum lagi komik-komik Eropa tersebut juga banyak yang merupakan kumpulan cerita bergambar yang dimuat di beberapa media cetak kala itu. Komik-komik Eropa ini terus mendominasi pasar hingga kemunculan komik-komik dari Jepang pada tahun 1990-an. Kenyataan menunjukkan perkembangan komik, sebagai bagian dari produk industri, tak bisa lepas dari pengaruh pasar dunia atau global. Dari catatan-catatan perkembangan komik di Indonesia dari sejak tahun 1930 menunjukkan hal ini. Sebagai contoh adanya periode komik-komik superhero dari Amerika maupun komik-komik Eropa. Semuanya mengacu pada tren yang berlaku secara global. Pada tahun 1990, sebuah genre baru komik asal Jepang berkembang pesat dalam industri massal dunia hingga membayangi dua negara penghasil komik terbesar, Amerika Serikat dan Perancis. Genre tersebut adalah komik manga. Tren dunia yang pada tahun 1990 tersebut berkiblat ke komik yang pertama kali dikembangkan sekitar tahun 1950 oleh "Dewa Manga" Ozamu Tezuka ini dilihat oleh salah satu penerbit komik, Elex Media Komputindo. Penerbit Elex Media saat itu menampilkan sebuah komik yang ditulis- digambar oleh Kyoko Mizuki-Yumiko Igarashi pada tahun 1974, Candy- Candy. Komik manga yang secara harfiah diartikan sebagai gambar-gambar lucu (lighthearted pictures) ini kemudian juga "melahirkan" genre baru dari dua negara lain di Asia, yaitu Cina dengan komik man-huo dan Korea dengan 17 Universitas Kristen Petra manhwa. Dua komik asal dua negara ini juga belakangan mulai unjuk gigi di pasar dunia. Kondisi yang terjadi sejak tahun 1980 hingga sekarang mirip dengan perkembangan komik pada masa setelah pendudukan Jepang, ketika komik- komik Barat, terutama komik superhero dari Amerika, begitu mendominasi pasar. Ketika itu komik lokal sempat mengalami kekosongan hingga akhirnya lahir komik-komik superhero imitasi. Belakangan ini komik manga pun tidak hanya masih mendominasi bisnis komik di Indonesia. Karya-karya para komikus di Indonesia pun ikut berkiblat pada komik asal Jepang tersebut. Demikianlah, komik manga kini juga menjadi satu ikon budaya sendiri. Komik tersebut tidak hanya dibaca saja, namun juga banyak yang tertarik mempelajari cara menggambar ala Jepang dengan matabesar (komikindonesia.com 1-18). Komik dapat dibagi menjadi beberapa jenis, Jagoancomic.com membagi jenis-jenis komik itu sebagai berikut (Tutorial Jenis Rupa Komik, par 1-18) : 1. Kartun/Karikatur (Cartoon) gambar yang dipadu dengan tulisan- tulisan. Pada umumnya komik kartun/karikatur ini berjenis humor (banyolan) dan editorial (kritikan) atau politik (sindiran) dan dari gambar tersebut dapat menimbulkan sebuah arti sehingga pembaca dapat memahami maksud dan tujuannya. Penggalan-penggalan gambar yang disusun/dirangkai menjadi sebuah alur cerita pendek. Namun isi ceritanya tidak terpaku harus selesai pada satu baris gambar, bahkan dapat dikreasikan menjadi sebuah cerita bersambung/berseri. Biasanya terdiri dari 3 hingga 6 panel. Komik Potongan (Comic Strip) ini biasanya dimuat secara rutin, harian atau mingguan disebuah surat kabar, majalah maupun tabloid/buletin. Penyajian isi cerita juga dapat berupa humor atau 18 Universitas Kristen Petra Potongan yang dijadikan buku saku) 3. Buku Komik (Comic Book) Gambar-gambar, tulisan dan cerita dikemas dalam bentuk sebuah buku (terdapat sampul dan isi). Buku Komik (Comic Book) ini acap kali disebut sebagai komik cerita pendek, pada umumnya Buku Komik berisikan 32 halaman, namun ada juga yang berisikan 48 halaman dan 64 halaman, dimana masing-masing buku berisikan isi cerita, iklan, dan lain-lain. Buku Komik seperti ini dapat dengan mudah dapatkan di toko-toko buku atau toko-toko komik. Buku Komik (Comic Book) itu sendiri terbagi lagi menjadi: a. Komik Kertas Tipis (Trade Paperback) Buku komik ini berukuran seperti buku biasa, tidak terlalu lebar dan besar. Walau berkesan tipis namum bisa juga dikemas dengan menggunakan kualitas kertas yang baik sehingga penampilan/penyajian buku ini terlihat menarik. Ditambah dengan gambar dan warna yang cantik, membuat buku komik ini sangat digemari.Contoh:Gundala, Godam, Si Buta Dari Gua Hantu, Lamaut, Kapten Bandung, Caroq, Gina, Gunturgen, Blacan, Zantoro, sertakomik-komik Marvel dan DC Comics Buku komik berukuran seperti majalah (ukuran besar), biasanya menggunakan tipe kertas yang tebal dan keras sebagai sampul. Dengan ukuran yang besar tersebut tentunya dapat menampung banyak gambar dan isi cerita. Contohnya The Adventure of Tin Tin. c. Komik Novel Grafis (Graphic Novel) Biasanya isi ceritanya lebih panjang dan komplikasi serta membutuhkan tingkat berpikir yang lebih dewasa untuk 19 Universitas Kristen Petra pembacanya. Isi buku bisa lebih dari 100 halaman. Bisa juga dalam bentuk seri atau cerita putus. 4. Komik Tahunan (Comic Annual) Bila pembuat komik sudah dalam skup penerbit yang lebih serius, penerbit akan secara teratur/berskala (misalkan setiap tahun atau setiap beberapa bulan sekali) akan menerbitkan buku-buku komik baik itu cerita putus maupun serial. Contoh:M&C Gramedia, PMK, Mizan, Terant, BumiLangit, Jagoan Comic,Marvel Comics, DC Comics, dan komik lainnya 5. Album Komik (Comic Album) Para penggemar bacaan komik baik itu komik karikatur maupun komik strip dapat mengkoleksi (hasil guntingan dari berbagai sumber media bacaan), dimana hasil koleksiannya dikumpulkan dan disusun rapih (pengkripingan) menjadi sebuah album bacaan. 6. Komik Online (Webcomic) Selain media cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid dan buletin, media Internet juga dapat dijadikan sarana dalam mempublikasikan komik-komik. Dengan menyediakan situs web maka para pengunjung/pembaca dapat menyimak komik. Dengan menggunakan media Internet jangkauan pembacanya bisa lebih luas (diseluruh dunia yang memiliki koneksi internet dapat mengaksesnya) dari pada media cetak. Komik Online bisa dijadikan langkah awal untuk mempublikasikan komik-komik dengan biaya yang relatif lebih murah dibanding media cetak. 7. Buku Instruksi dalam format Komik (Instructional Comics) Tidak sedikit sebuah panduan atau instruksi sesuatu dikemas dalam format Komik, bisa dalam bentuk Buku Komik, Poster Komik, atau tampilan lainnya. Pengguna/Pembaca akan lebih mudah cepat mengerti bila melihat alunan gambar daripada membaca prosedur- prosedur dalam bentuk tulisan. Selain itu dapat menjadi lebih menarik dan menyenangkan. melangkah dalam pembuatan film/iklan akan lebih mudah berkerjanya bila dibuatkan Rangkaian Ilustrasinya terlebih dahulu, biasanya Rangkaian Ilustrasi ini dibuat dalam bentuk gambar, dan sudah tentu rangkaian ilustrasi gambar tersebut disusun menjadi sebuah rangkaian yang bisa disebut komik. Namun tidak usah jauh-jauh kedalam dunia perfileman/iklan, sebelum para komikus membuat komik sudah pasti terlebih dahulu membuat sebuah Rangkaian Ilustrasi (Storyboard) nya, setelah itu baru diproses penggambaran, penintaan, pewarnaan dan penataan tampilan (layout). 9. Komik Ringan (Comic Simple) Biasanya jenis komik ini terbuat dari hasil cetakan kopian dan steples (buatan tangan). Hal ini dimana pemilik dan pembuat komik dengan biaya yang rendah turut dapat menciptakan komik-komik dan berkarya, cara ini digunakan sebagai alternatif cara untuk turut berkarya kecil-kecilan, bisa dijadikan langkah awal bagi para komikus. Cukup sering bila kita ingin melakukan sesuatu, terlebih dahulu kita membayangkan apa-apa saja yang akan kita lakukan nantinya (persiapan). Dengan bayangan-bayangan dalam pikiran tersebut sebenarnya sudah menjadi rangkaian gambar-gambar yang mana bisa juga disebut juga sebagai Komik, hanya saja gambar-gambar tersebut tidak tertuang dalam coretan diatas kertas melainkan tergambar didalam pikiran kita. Basis media komik yang paling umum adalah kertas maupun buku. Namun ada pula yang dibuat dalam bentuk digital yang kemudian disebut sebagai webcomic. Pada umumnya, komik memiliki beberapa elemen penyusun. Layaknya karya desain grafis yang lain, komik juga memuat unsur-unsur dasar desain, antara lain gambar, warna dan layout, hanya saja untuk layout dalam komik sedikit berbeda dengan layout yang digunakan untuk buku-buku lainnya.Masing-masing unsur atau elemen dasar itu masih dapat dibagi lagi ke dalam beberapa katagori. 1. Tinjauan Tentang Garis yang beragam, sehingga dapat menciptakan volume serta kedalaman ruang. Pada karya seni rupa, cahaya sengaja dihadirkan untuk kepentingan nilai estetis untuk memperjelas kehadiran unsur- unsur seni rupa yang lainnya.Peralihan gelap dan terang merupakan upaya untuk mempertegas volume suatu bentuk. 3. Tinjauan Tentang Bentuk dan Ruang Bentuk berasal dari garis yang saling berhubungan dan membentuk sebuah bidang, semua objek gambar memiliki bentuk konstruksi yang lebih sederhana.Bentuk yang umumnya dikenal luas diantaranya segi empat, persegi panjang, lingkaran, kubus, balok, silinder dan sebagainya. 4. Tinjauan Tentang Pola gambar.Pengulangan ini konstan dan mempunyai interval yang kurang lebih sama.Istilah pola juga dapat diartikan sebagai pattern, dimana merupakan basis dalam eksekusi sebuah karya terutama yang berhubungan dengan pakaian.Pola dalam hal ini 22 Universitas Kristen Petra mengesankan harmoni dan kesatuan. 5. Tinjauan Tentang Tekstur dinilai dengan cara dilihat atau diraba yang biasa dikenal dengan istilah tekstur. Tekstur sering dikategorikan sebagai corak dari suatu permukaan benda, misalnya permukaan karpet, baju, kulit kayu, dll. Dalam sebuah gambar yang dibuat menggunakan pensil tekstur biasanya diwakili oleh arsiran pensil 2.1.6.2. Tinjauan Mengenai Warna Teori warna yang ada dan digunakan saat ini adalah teori Brewster, Teori Brewster yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831 (Teori Warna par 1).Teori Warna ini menyederhanakan warna- warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad. campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.Warna primer menurut teori warna pigmen dari Brewster adalah warna-warna dasar.Warna- warna lain dibentuk dari kombinasi warna-warna primer.Pada awalnya, manusia mengira bahwa warna primer tersusun atas warna Merah, Kuning, dan Hijau. Namun dalam penelitian lebih lanjut, dikatakan tiga warna primer adalah Merah (Magenta), Biru (Cyan), dan Kuning (Yellow) menghasilkan warna sekunder.Campuran warna sekunder dengan warna primer menghasilkan warna tertier.Akan tetapi secara teknis, merah – 23 Universitas Kristen Petra pigmen primer adalah magenta, kuning dan cyan.Biru dan hijau adalah warna sekunder dalam pigmen, tetapi merupakan warna primer dalam cahaya, bersama dengan merah. dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam. menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah.Sementara warna dingin dimulai dari ungukemerahan hingga hijau.Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya.Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warna-warna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang. antara warna-warna inipun beragam, Kontras Komplementer, Kontras Split Komplementer dan Kontras Tetrad Komplementer.Kontras komplementer adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di dalam sebuah lingkaran warna.Kontras split komplemen adalah dua warna yang saling hampir berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Kontras triad komplementer Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.Kontras tetrad komplementer, disebut juga dengan double komplementer.Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°) (Teori Warna, par 18-20). Baik dalam dunia desain grafis maupun interior, dikenal istilah psikologi warna.Warna dapat memberikan kesan-kesan tertentu bagi yang melihatnya, kesan ini dapat mendukung visualisasi atau gambar dalam menyampaikan pesannya.Menurut Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto 24 Universitas Kristen Petra • Kuning memberikan kesan ceria dan energik, serta dalam beberapa upacara agama Hindu dan Budha, wara kuning dimaknai sebagai lambang keagungan (Sadjiman 55). • Jingga anugrah dan juga menjadi lambang bahaya.Jingga merupakan warna paling menyolok sehingga banyak diaplikasikan ke seragam petugas di lapangan (Sadjiman 55). • Merah gairah, marah, berani, bahaya, positif, agresif, merangsang dan panas.Warna merah seringkali dipergunakan untuk melambangkan keberanian, kekuatan, dan kemarahan (Sadjiman 56). sehingga karakter bawaannya pun menggabungkan kedua karakter warna primernya.Merah melambangkan keberanian dan kejantanan, sedangkat biru menggambarkan kebangsawanan, dan spiritualitas. Ungu dimasa lalu banyak dipergunakan oleh raja-raja untuk melambangkan kebesaran dan kejayaan serta kekayaan, dalam dunia interior, cat tembok berwarna ungu dipercaya dapat meningkatkan inspirasi dan imajinasi (Sadjiman 56-57). melankoli dan sayu.Biru juga dapat diasosiasikan dengan langit, tempat tinggal para dewa, sehingga biru melambangkan keagungan, perdamaian, stabilitas dan harmoni.Biru juga dapat menenangkan jiwa dan mengurangi nafsu makan (Sadjiman 57). bawaannya adalah muda, tumbuh, dan watak lainnya yang mirip dengan biru, karena biru merupakan salah satu warna penyusunnya.Warna hijau cenderung bersifat netral sehingga cocok digunakan untuk ruang istirahat, hijau melambangkan kesegaran, keabadian, kesetiaan dan keseimbangan (Sadjiman 58). • Putih warna bersih karena kebersihan beberapa benda juga dinilai dari tingkat putihnya, seperti seragam sekolah dan gigi.Putih juga melambangkan cahaya, kesucian, kemurnian, kebenaran dan kesopanan, serta menjadi lambang perdamaian (Sadjiman 58). • Hitam kesengsaraan, bencana, kesuraman dan kemurungan.Namun warna hitam juga membawa watak positif seperti elegan dan kuat serta formal (Sadjiman 59). • Abu-abu warna ini menyimbolkan ketengangan, kebijaksanaan, namun juga dapat menyimbolkan keragu-raguan (Sadjiman 60). 26 Universitas Kristen Petra warna coklat membawa watak kerendah hatian, sopan, arif dan bijaksana, dan kehormatan (Sadjiman 60). 2.1.6.3. Tinjauan Mengenai Cerita merupakan rangkaian kejadian baik yang tersusun dari permulaan, pertengahan, dan akhir.Cerita umumnya mengikuti seorang (sekumpulan) tokoh utama melalui semua usahanya untuk mencapai satu tujuan (Tatsumaki 69). karakter, teks, illustrasi. Plot dan karakter cenderung mengacu pada subyek dalam sebuah cerita, sedanngkan teks dan illustrasi mengacu kepada media penyampaian cerita itu sendiri (Tatsumaki 69). Dalam merancang sebuah cerita yang menarik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu tema, gaya cerita dan plot. Tema merupakan masalah utama yang ingin diceritakan dalam komik. Tema merupakan ide utama dalam sebuah karya komik yang memberikan panduan pada gaya penceritaan dan plot. Setelah menentukan tema yang akan diangkat, komikus menentukan gaya penceritaannya, gaya penyampaian atau pernceritaan lebih dikenal dengan istilah genre, didefinisikan sebagai kesan yang ingin ditonjolkan secara garis besar dari cerita tersebut. Dalam prakteknya sebuah komik dapat memuat lebih dari 1 genre.Genre yang secara umum dikenal dalam dunia komik antara lain drama, komedi, aksi, petualangan, horror, fantasi, fiksi ilmiah dan sebagainya. Setelah tema dan genre ditentukan, komikus mulai merancang plot atau alur cerita.Dalam dunia perkomikan, susunan babak atau plot sangat bervariasi, namun bentuk yang paling sederhana adalah berupa susunan tiga babak, permulaan, pertengahan dan akhir. 27 Universitas Kristen Petra tokoh utama dan masalah utama dalam keseluruhan kisah.Babak pertengahan adalah waktu dimana karakter utama atau pendukung dihadapkan oleh konflik-konflik baik dengan karakter lawannya, lingkungan maupun dirinya sendiri yang memuncak pada sebuah waktu, klimaks (puncak ketegangan).Babak akhir diisi oleh penyelesaian, dan konsekuensi tindakan yang diambil pada tahap penyelesaian ini sendiri (Tatsumaki 71). Plot juga dapat disusun dengan alternatif 5W+1H, What : masalah utama dan penyelesaiannya, Who: karakter yang terlibat dalam konflik atau masalah. When: waktu dimana kejadian dalam komik berlangsung, Where: Tempat kejadian perkara, Why: Penyebab masalah atau penyelesaian terjadi, How: Cara masalah / penyelesaian itu muncul. disebut juga layout. Namun pada dasarnya layout dalam komik berbeda dengan layout pada umumnya.Layout dalam komik dapat disebut juga sebagai anatomi komik.Menurut Toni Masdiono, anatomi komik dapat dibagi ke dalam dua bagian, halaman pembuka dan halaman isi. (14 Jurus Membuat Komik 12) ini pada umumnya berisi judul dan nama pengarang atau komikus, maupun nama penerbit komik. Judul sendiri dapat dibedakan menjadi dua, judul serial, dan judul cerita. Judul serial berlaku untuk komik seri yang terbit secara berkala, dan judul ini muncul setiap edisinya. Sedangkan judul cerita merupakan judul per-chapternya, yang berubah- ubah tiap edisinya. 28 Universitas Kristen Petra potongan adegan dalam sebuah narasi, panel sendiri dapat dibagi menjadi: memiliki garis pembatas di sekelilingnya. o Panel Tertutup yaitu panel yang memiliki garis pembatas • Balon Kata yang diucapkan oleh tokoh maupun objek dalam komik, bentuk balon kata beragam, menyesuaikan dengan situasinya. • Narasi utuh, namun teks yang digunakan untuk merepresentasikan cerita, seperti yang diucapkan narator dalam karya-karya audio- visual. Efek suara atau yang lebih dikenal dengan istilah Sound Effect merupakan suara latar yang divisualisasi dalam komik. Efek suara dalam komik layaknya didalam film-film, berasal dari objek environmental. 2.1.7. Kategori Teknik Cara Pembuatan Komik Dalam pembuatan komik, teknik yang dapat digunakan oleh komikusnya beragam, ada yang membuat sketsa pensil terlebih dahulu kemudian tracing dan toning dengan tinta secara manual kemudian di scan, untuk diperbanyak. Cara ini relatif banyak digunakan oleh komikus yang ada 29 Universitas Kristen Petra saat ini, namun juga ada yang memilih untuk langsung digital. Mulai dari sketsa, inking maupun toning dilakukan secara langsung di komputer. 2.1.8. Kriteria Komik Yang Baik Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk kriteria komik yang baik, karena tiap komikus memiliki gaya maupun ideologi yang berbeda terkait komik yang baik. Namun,terlepas dari semua itu, dari definisi komik, dapat ditarik satu kesimpulan yang pasti hal yang menjadi sebuah kriteria komik yang baik. Menurut Scott McCloud dalam bukunya, Understanding Comic, komik dibuat untuk menyampaikan pesan (convey message), jika sebuah komik berhasil menyampaikan pesannya, maka dapat dikatakan komik tersebut berkualitas. dinilai dari apakah pesannya tersampaikan, harus ada hal yang mendasari buku komik dapat dikatakan bermutu atau bagus. Kriteria komik yang baik menurut Takoma Park Maryland Library antara lain adalah: • Visualisasi atau Gambar: Di dalamsebuah komik terdapat kedalaman karakter dan emosi. Kemampuan sebuah gambar yang relatif sederhana dalam menghidupkan emosi pembacanya, dan kesan "hidup" yang ditonjolkan pada karakternya • Cerita: Cerita yang baik adalah cerita yang mengalir dan menarik pembacanya untuk ingin tahu lebih jauh cerita selanjutnya. Cerita yang baik akan memunculkan penonjolan karakter sehingga pembaca dapat membayangkan dan berimajinasi dengan karakter tersebut. suara yang sesungguhnya dalam kepalanya. Komik yang baik mempunyai percakapan antar karakter yang jelas dan dapat dibayangkan dengan mudah oleh pembacanya. • Resonansi: Kriteria komik yang baik yang terakhir adalah resonansi. Resonansi adalah sebuah ukuran maya seberapa menarik sebuah buku komik sampai-sampai seorang pembaca 30 Universitas Kristen Petra selanjutnya keluar. Perancangan sebuah komik memiliki proses panjang yang harus dilalui pembuatnya, Scott Mc Cloud menjabarkan proses perancangan komik ke dalam enam tahap besar, Idea, Form, Idiom, Structure, Craft, Surface. (170) • Idea / Purpose (Ide dan Tujuan) Ide yang dimaksud di sini adalah impuls, emosi, filosofi dan tujuan dari sebuah karya. Main Idea, pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. • Form (Bentuk Karya) berbentuk buku, majalah, signage atau poster. • Idiom ( Pemilihan Gaya dan Genre) Pada tahap ini, komikus memilih menggambarkan komiknya dalam gaya dan genre yang bervariasi, manga, atau marvel, humor atau serius, fantasi atau kritik sosial. • Structure (Rangka dan Struktur komik) Pada tahap ini, isi atau bahan komik diseleksi, dibagi ke dalam dua kubu, yang perlu dan tidak perlu dimasukkan ke dalam komik. Pada tahap ini, fisik isi komik mulai dibuat, memilih tarikan garis yang cocok dengan cerita dan skenario yang diangkat, pemilihan warna, serta pengkarakteran. karyanya. 2.2.1. Tinjauan Dari Segi Ide dan Tema Cerita 2.2.1.1 Tinjauan Tentang Kritik Sosial Kritik sosial pada umumnya dapat didefinisikan sebagai kritik atas kondisi sosial yang ada dalam sebuah masyarakat tertentu. Kritik sosial dapat diaplikasikan kedalam berbagai media dalam bidang seni rupa dan desain, seperti mural, karikatur, komik, maupun film. Media grafis digunakan oleh para seniman atau desainer untuk mengekspresikan ketidakpuasan atau refleksi akan realita yang ada di masyarakat. Dalam dunia perfilman, sebagai contohnya film dengan tema kritik sosial "Tanda Tanya" mencoba menangkap realita interaksi antar etnis dan agama di Semarang.Dalam dunia karikatur dan komik, kritik sosial telah menjadi hal biasa. Sudah banyak komik yang mengangkat tema kritik sosial, seperti Benny Mice, Panji Koming, Put On dan lain-lain. Topik yang diangkat relatif simpel dan pesan yang disampaikan mudah untuk ditangkap pembacanya selain itu kemunculannya yang berkala dan bentuk komiknya yang rata-rata menggunakan jenis komik strip mempermudah komikus untuk merancang cerita yang uptodate berdasarkan perkembangan isu sosial yang sedang terjadi. Asia Timur dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, sekitar 1.3 miliar orang hidup dan menetap di China.China memiliki Ibukota di Beijing.Menurut The World Factbook yang dilansir oleh lembaga CIA, luas wilayah China diperkirakan sekitar 9.6 juta kilometer persegi dan merupakan negara dengan luas daratan keempat terbesar di dunia. Layaknya Indonesia, China memiliki banyak etnis dan suku yang tinggal didalamnya, dan yang terbesar adalah etnis Han, sekitar 91,5 persen. Bahasa yang secara umum digunakan adalah bahasa Mandarin, namun tiap daerah dapat memakai dialeknya masing-masing. Awalnya 32 Universitas Kristen Petra ajarannya digunakan sebagai pedoman hidup hingga saat ini, namun sekarang China sudah terbuka untuk agama-agama lain, berbagai agama dapat ditemui di China, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha serta agama-agama lainnya. China adalah peradaban paling tua di dunia. Hal ini terlihat dari sistem penulisan yang konsisten dari masa lampau sampai sekarang. Selain itu, banyak penemuan penting yang berasal dari peradaban China kuno, misalnya kertas, kompas, serbuk mesiu, dan lain-lain. monarkial dengan pemimpinnya, kaisar.Kekuasaan diturunkan secara turun temurun dalam keluarga kerajaan.Kekuasaan turun temurun ini disebut juga dinasti, yang berarti satu periode pemerintahan yang dipimpin oleh kaisar yang berasal dari sebuah marga tertentu.Dinasti pertama yang dicatat sejarah adalah Dinasti Shang dan berakhir 2000 tahun berikutnya pada Dinasti Qing yang dipimpin oleh kaisar yang berasal etnis Manchu di utara. Pada abad ke-18 kekuasaan Dinasti Qing mulai melemah. China terlibat dalam Perang Candu melawan Inggris pada 1840 M. Cina bahkan harus menyerahkan Hong Kong kepada Inggris pada 1842M. Penguasa Dinasti Qing juga harus menghadapi beberapa pemberontakan, di antaranya Pemberontakan Taiping, Nien, Panthay, dan Boxer. Akhirnya, Revolusi 1911M yang dipimpin Sun Yat-sen mengakhiri kekuasaan Dinasti Qing dan mengakhiri monarki feodal China yang telah berusia 2.000 tahun. 2.2.1.3 Tinjauan Tentang Etnis Tionghoa Indonesia • Sejarah Kedatangan Etnis Tionghoa di Indonesia Menurut Dr. Han Hwie Song dalam bukunya, orang-orang Tionghoa datang bermigrasi ke daratan selatan atau dalam istilah orang Tionghoa di masa lalu, Nan-Yang sejak tahun 1400, dan mencapai puncaknya pada abad ke Sembilan belas 33 Universitas Kristen Petra Tionghoa Indonesia 1). Pada abad ke 19 jumlah imigran Tionghoa meningkat, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti bencana alam, peperangan dan selain itu daratan selatan atau Nanyang dikenal sejak lama memiliki kekayaan yang berlimpah, membuat para imigran tergiur untuk datang dan mengadu nasib (Andjarwati 37). Para pendatang dari Tiongkok ini mulanya tinggal di kota- kota pelabuhan di Indonesia dengan tujuan untuk berdagang.Namun selain pedagang, ada banyak orang Tionghoa dengan latar belakang profesi lain yang masuk dan menetap di Indonesia, ada ahli agrarian, arsitek, ahli mebel dan lain-lain. Banyak dari pendatang baru ini bermigrasi ke Indonesia dengan tujuan untuk mencari hidup yang lebih baik, atau yang sering disebut dengan istilah merantau, dan banyak dari imigran ini pada akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia. Tionghoa di Indonesia tergolong minoritas, namun dengan kultur asli yang dibawa dari negeri asalnya, orang Tionghoa di Indonesia dengan cepat mendominasi perekonomian di tanah air, dalam waktu singkat etnis Tionghoa yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah dapat naik dengan cepat menuju kelas sosial yang lebih tinggi, hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan orang Tionghoa, karena orang Tionghoa terkenal akan keuletannya, rajin dan rela hidup menderita asalkan masih dapat menghemat (Andjarwati 40). Orang Tionghoa pendatang baru ini kebanyakan berasal dari Tiongkok bagian Selatan, provinsi Fujian (Hokkian), provinsi Guangdong, ada juga imigran-imigran dari provinsi Hubei, Zhijiang dan seterusnya, tetapi dalam jumlah yang jauh lebih 34 Universitas Kristen Petra sedikit. Pedatang dari Fujian berasal dari banyak kota atau desa seperti Fu-Zhou, Xia-men dan dari desa umpamanya Fu- Ching. Dari provinsi Guangdong dari kota Guang-Zhou, Mei- Xian (orang Hakka atau Kheh), pulau Hainan dan seterusnya. • Peranakan dan Totok Indonesia, keturunan Tionghoa dapat dibagi menjadi Cina "peranakan" dan Cina "totok" (M.Alfandi par 9). Cina peranakan adalah keturunan Cina yang sudah lama tinggal dan mencari nafkah di Indonesia, dalam hitungan beberapa generasi, dan pada umumnya sudah terbaur dengan masyarakat. Keturunan Cina "peranakan" ini sudah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, baik di dalam maupun di luar rumahdan beberapa juga fasih menggunakan bahasa lokal daerah dimana mereka tinggal, orang-orang ini bertingkah laku seperti pada umumnya keturunan pribumi dan orientasi budaya mereka sudah kepada kebudayaan Indonesia atau kebudayaan lokal tempat mereka berdomisili. pada umumnya baru masuk ke Indonesia satu sampai dua generasi, khususnya pada masa menjelang Perang Dunia II. Mereka lazim disebut singkeh, yang secara harfiah berarti "tamu baru"(Andjarwati 47). Mereka umumnya masih menganut kebudayaan dan adat istiadat Cina untuk berkomunikasi antara sesamanya. Yang terakhir ini jumlahnya sudah menurun akibat terhentinya imigrasi dari daratan Cina dan sekarang sudah mengalami perakanisasi.Perakanisasi ini merupakan istilah lain dari proses pengasimilasian secara paksa yang dicanangkan pada masa Orde Baru, dimana semua orang Tionghoa harus memiliki identitas pribumi dan bertingkah laku selayaknya orang pribumi. Hal ini 35 Universitas Kristen Petra peranakan dan totok menjadi kabur dan patut untuk dipertanyakan, khususnya terhadap Cina Totok (Melly 42).Keluarga totok masih berorientasi kepada budaya leluhurnya, selain itu kebanyakan orang totok berusaha menutup diri, dan hanya berkumpul dengan sesama totok. Karena orientasinya masih pada akar budayanya, maka wajar bila kebanyakan orang Tionghoa totok masih membangga- banggakan China (China Minded) dan mencoba untuk menanamkan pemikiran itu kepada generasi penerusnya. 2.2.1.4 Tinjauan Mengenai Rasisme masyarakat yang berasal dari ras lain, dan rasialisme dianggap sebagai sikap pengecut dari golongan mayoritas terhadap minoritas (Mona Lohanda et al.31). Dalam realitanya di masyarakat, orang Tionghoa selalu diposisikan sebagai pihak yang ditindas oleh pemikiran- pemikiran rasis pihak pribumi, namun sebenarnya pemikiran rasialis layaknya lingkaran setan,Chang Yau Hoon menyebutkan dalam bedah buku karangannya, "Identitas Tionghoa Pasca Soeharto: Politik, Budaya dan Media"bahwa orang yang didiskriminasi akan cenderung mendiskiminasi orang atau kalangan yang lain. Sebagian orang Tionghoa tidak menyadari bahwa orang Tionghoa tersebut menindas kalangan atau bahkan dirinya sendiri.Orang Tionghoa seringkali mendiskriminasikan orang Tionghoa minoritas, seperti yang berbeda keyakinan maupun yang berasal dari keturunan campuran. Menurut Chang Yau-Hoon, permasalahan atau isu Tionghoa di Indonesia merupakan yang paling bermasalah di Asia Tenggara dan sebenarnya hakikat atas pemahaman isu Tionghoa itu adalah Identitas. Identitas Tionghoa dalam kenyataannya relatif dan tidak dapat dinilai hanya dari penampilan fisik seperti mata sipit dan kulit kuning, banyak orang Tionghoa di Indonesia masih membawa ciri-ciri fisik orang Tiongkok 36 Universitas Kristen Petra Tionghoa. Mely G Tan mengutip pendapat Wu Gungwu dalam buku "The Study of Chinese Identity in Southeast Asia" sebagai berikut A number of studies have indicated that there are people of Chinese descent who have become citizens of the country they settled in and who do not consider themselves Chinese. Then there are those who had lost almost all their affinity with their Chinese origin, but who have rediscovered their Chineseness and who are trying to be resinicized. There is yet another category of ethnic Chinese who have what Wang calls a"double identity". This people are citizens of, and identify with, their country of adoption, yet remain conscious of being Chinese (39) Kesadaran akan identitasnya sebagai "orang Cina" membuat sebagian etnis Tionghoa berusaha mengembalikan identitas ketionghoaannya itu, namun karena akarnya telah dicabut sejak jaman Orde Baru, membuat "generasi muda" susah dan sebagian enggan untuk kembali kepada budayanya dan oleh karena itu muncul doktrinasi generasi muda. Sebagian orang Tionghoa konservatif memiliki pemikiran yang cenderung merendahkan sesama orang Tionghoa yang tidak "nge-tionghoa-i", dalam hal ini tidak mengerti bahasa, adat istiadat atau berprilaku layaknya orang Tionghoa, dan untuk mencegah hal yang "memalukan" ini terjadi, sebagian orang-orang Tionghoa ini mendidik generasi mudanya untuk "mencintai & menjadi China" Pada kenyataanya yang berlangsung di sebagian besar keluarga orang Tionghoa totok terutama yang masih berpikiran kolot, generasi pertama, yang dalam pengertian generasi dalam sebuah keluarga totok yang pertama kali lahir di Indonesia, masih berorientasi ke negeri leluhurnya dan berusaha mengarahkan generasi selanjutnya untuk "menjadi China", mengikuti adat istiadat leluhur, mencintai segala sesuatu yang berbau China dan bertingkah selayaknya orang China. Berbagai alasan dilontarkan untuk memperkuat argumen mengapa 37 Universitas Kristen Petra harus "menjadi China". Hal ini yang kemudian disebut oleh Mely G Tan sebagai "China Factor", "...This is the view of the potential influence of China on the ethnic Chinese, through culture and economy, which is considered to be especially plausible since the resumption of diplomatic relations in 1990" (52). Pandangan iniyang menyebabkan orang Tionghoa banyak yang membangga-banggakan negara China menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang sebenarnya "asing" itu. Dan ketika orang Tionghoa ini mencoba pergi ke China dan melihat realita masyarakat yang ada disana, memunculkan apa yang disebut sebagai Cultur Shock karena meskipun memiliki latar belakang budaya yang sama, namun kedua masyarakat itu hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda. Dari isu rasial yang ada, pemikiran rasialisme atau rasisme adalah "penyakit" yang paling berbahaya, karena pada umumnya rasisme merupakan tindakan pengecut sekelompok mayoritas terhadap minoritas, rasisme adalah bentuk diskriminasi yang awalnya berkembang dari prasangka atau stereotip yang tumbuh dalam tiap individu dalam pandangannya terhadap individu lain, stereotip itu menjadi sangat kuat apabila diyakini dan pada akhirnya dapat menjadi rasisme. Chang Yau-Hoon, seorang penulis pada acara bedah bukunya yang berjudul "Identitas Tionghoa Pasca Soeharto: Politik, Budaya, Media" 22 Febuari 2013, pada dasarnya orang yang didiskriminasi orang lain akan punya peluang lebih besar untuk mendiskriminasi orang lainnya, sehingga pada akhirnya membentuk sebuah lingkaran setan yang tidak berujung. Seperti pada prakteknya, beberapa orang Tionghoa terutama di kalangan totok radikal masih memandang rendah keturunan campuran (hasil perkawinan antara keturunan Totok dengan Pribumi), terutama yang berbeda keyakinan. Keluarga totok pada umumnya tidak ingin memiliki menantu orang Pribumi dengan berbagai macam alasan, dan bila sudah terlanjur mempunyai keturunan (campuran), biasanya keturunan itu cenderung kurang diakui atau dihargai didalam keluarga totok. 38 Universitas Kristen Petra muda membuat sebagian remaja bingung atas pilihan jati dirinya. Seakan hanya dihadapkan dengan dua pilihan, menjadi Indonesia, atau menjadi China. Semua ini terjadi karena masyarakat tidak memahami apa makna sesungguhnya dari Identitas Tionghoa, karena Identitas Tionghoa maupun identitas Indonesia tidak dapat dinilai semata dari penampilan fisik, maupun tindak tanduknya, namun kembali kepada diri masing-masing menilai seperti apa identitasnya dan kemauan membuka diri terhadap masyarakat. 2.2.3. Tinjauan Faktor Eksternal 2.2.3.1. Tinjauan Mengenai Globalisasi sebagai kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan masyarakat domestik maupun lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang. (Globalisasi, Karakter dan Implikasinya 1) Menurut John Green, dalam video "Crash Course World History", keberadaan Globalisasi dapat diidentifikasikan kedalam beberapa realita yang terjadi dalam sebuah masyarakat : 1. Perusahaan multinasional memiliki jangkauan secara global dan mulai memiliki kekuatan. 3. Pemerintah memotong tariff dan peraturan dalam perdagangan international yang akhirnya memunculkan free trade atau perdagangan bebas. sosial di Ineternet dan bebas bepergian ke luar negeri dengan pesawat.Adanya globalisasi memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak penduduk di dunia yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi pesat.Namun setiap sisi positif memiliki sisi negatifnya, globalisasi menyebabkan orang menjadi konsumtif. 39 Universitas Kristen Petra adalah meningkatnya individualisme, perubahan pada pola kerja, terjadinya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Masyarakat mulai memandang dan membanggakan nilai-nilai negara lain, segala sesuatu yang berbau Amerika atau Eropa atau China dan lain-lain dianggap sebagai sesuatu yang keren atau "wah", seperti bahasa Inggris, gaya bertutur kata, rambut pirang dan lain-lain. Menurut John Green, dalam era globalisasi saat ini, bahasa yang digunakan dibanyak negara mulai memudar digantikan oleh bahasa- bahasa global dan memudarnya keragaman budaya "There are fewer languages spoken today, and probably less Cultural Diversity". Pemikiran-pemikiran lokal menjadi pemikiran global dan pemikiran global disesuaikan dengan pemikiran lokal, hal ini terjadi karena telah memudarnya batas komunikasi antar negara, sehingga seorang individu dapat dengan mudah mengutarakan ideologinya di dunia maya, dan orang-orang yang merasa sepaham dan sependapat menyebarkan ideologi itu ke lingkungannya. Sejauh ini, rasisme di kancah internasional dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dapat menimbulkan potensi konflik, terutama setelah adanya diskriminasi terhadap ras negro di Amerika Serikat dan paham ini juga menyebar sampai ke Indonesia, sehingga sudah banyak orang yang mulai berpikiran terbuka dan mulai meninggalkan pemikiran-pemikiran rasis. 2.2.3.2 Tinjauan Mengenai Culture Shock Culture Shock merupakan istilah dalam bahasa Inggris untuk mendefinisikan efek atau dampak dari perpindahan seseorang dari sebuah kebudayaan yang familiar ke tempat dengan kebudayaan yang asing. Sally Robinson dalam artikelnya "Coping with Culture Shock" menjelaskan definisi Culture Shock sebagai : "Culture Shockdescribes the impact of moving from a familiar culture to one which is unfamiliar. It usually affects people who have travelled abroad to work, live or study; but can even be felt 40 Universitas Kristen Petra when abroad on holiday. It can affect anyone, including international students. It is caused by the shock of a new environment, meeting lots of new people and learning the ways of a different country. Many people will also associate Culture Shock with Homesickness – when you miss your family, friends and those who normally offer you support and guidance. You may find that the absence of particular smells, sights and tastes from your home country trigger the sensation of culture shock. (Coping with Culture Shock . par 1) Culture Shock dapat terjadi pada siapa saja, meskipun dari akar latar belakang yang sama seperti yang terjadi ketika orang Tionghoa di Indonesia pergi ke China. Hal ini disebabkan karena baik perilaku dan budaya orang Tionghoa di Indonesia sudah terintegrasi dengan budaya lokal. Menyampaikan Pesan. Komik dewasa ini digunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan pesan, baik untuk keperluan komersil, maupun untuk edukasi dan kritik sosial. Dalam konteks perannya sebagai media komunikasi, komik turut berperan dalam merepresentasikan aspek-aspek kehidupan sosial sebuah masyarakat. Adegan-adegan komik yang menggelitik biasanya malah mampu menyuguhkan gambaran atas realitas dengan sangat akurat. (Komik Sebagai Media Komunikasi Visual .par 3). Hal ini menurut Graeme Burton disebabkan oleh fungsi media telah berkembang, salah satunya adalah fungsi kultural. Dalam menjalankan fungsi kultural, media menghasilkan materi yang mencerminkan budaya dan menjadi bagian dari budaya tersebut. Secara praktis dapat dikemukakan; pertama, materi ini mempertahankan dan mentransmisikan budaya kita dan menghasilkan kontinuitas bagi budaya tersebut; kedua, materi ini mengembangkan budaya massa dengan mengorbankan keanekaragaman subkultur; dan ketiga, materi ini dapat mempertahankan status quo dalam pengertian 41 Universitas Kristen Petra kultural, tetapi juga dapat mendorong perubahan dan pertumbuhan. (Komik Sebagai Media Komunikasi Visual .par 5) 2.3. Tinjauan Buku Komik Serupa Saat ini buku komik kritik sosial telah banyak dibuat dipasaran, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, salah satu komik kritik sosial dari Indonesia yang telah ada cukup lama adalah seri komik oleh komikus bernama Benny dan Mice. Selain itu, komik kritik sosial dari luar negeri yang paling terkenal adalah The Adventure of Tintin karya seorang komikus Belgia, Herge. 2.3.1. Tinjauan Aspek Bentuk Jika dilihat dari aspek bentuk komiknya, Benny Mice awalnya berupa komik strip yang dimuat di harian kompas tiap minggunya, namun seiring berjalannya waktu, strip yang populer akhirnya dikomikkan/ dijadikan buku komik. Sedangkan Tintin muncul pertama kali sebagai komik yang dimuat di surat kabar "Le Petit Vingtième pada 10 Januari 1929, dan saat dicetak dalam bentuk buku komik panjang menyerupai majalah. 2.3.2. Tinjauan Aspek Ide Cerita Dari segi Ide ceritanya, meskipun keduanya berbicara masalah realita sosial namun cara menyampaikannya berbeda. Tintin merupakan komik yang ditujukan untuk kalangan anak-anak dan mengangkat tema petualangan seorang detektif cilik yang ditemani anjing putih bernama snowy, pesan kritik sosial yang disampaikan halus sehingga tidak disalah persepsikan oleh audiencenya. Sedangkan Benny dan Mice menggunakan ide cerita sebagai warga Jakarta yang sedikit ndeso yang melihat keadaan dan isu-isu sosial di sekitarnya. Penceritaannya sedikit gamblang dan memakai bahasa yang mungkin tidak dimengerti anak-anak sehingga target audience nya adalah orang dewasa. Dari segi visual, gaya gambar yang digunakan sama-sama kartun, namun ada perbedaan goresan antara karya Herge dan Benny Mice. Namun dari segi visual komik secara keseluruhan, Herge masih mengikuti pattern komik cerita pada umumnya, sedangkan Benny dan Mice bebas berkreasi 42 Universitas Kristen Petra dengan panel-panel, hal ini mengesankan cerita dalam komik Tintin lebih serius dibandingkan dengan Benny dan Mice. 2.3.4. Tinjauan Aspek Content-Massage Dari segi pesan yang disampaikan, Tintin lebih ke arah edukasi, karena target pembacanya adalah kalangan anak-anak, sedangkan dalam komiknya, Benny Mice ingin menyampaikan keragaman tingkah laku, atau pemikiran orang Indonesia terutama diJakarta yang justru menjadi keragaman budaya di Indonesia. Sumber: image.google.com "Benny & Mice" adalah komik yang terbit secara berkala pada harian Kompas hari minggu, cerita yang digunakan cenderung simple dan selesai dalam 1 halaman, yang pada umumnya terdiri dari 4 panel namun penyusunannya tidak seperti komik 4 panel pada umumnya. Sekilas dari segi visual komik "Benny & Mice" terkesan tidak rapi, dapat diamati dari tarikan garis yang tidak tegas dan seakan dibuat asal dan tergesa-gesa, namun semua itu menjadi kekhasan gaya visual komikusnya sendiri. Gambar 2.5 Komik The Adventure of Tintin 44 Universitas Kristen Petra Komik Tintin telah dikenal sejak awal 1900 an, pada kemunculan komik pertamanya, Tintin di negeri Soviet pada tahun 1930an, komik ini merupakan satire (sindiran) Herge, komikusnya terhadappemerintahan Uni Soviet dan paham Komunisme serta membuat lelucon tentang klaim Soviet akan kemajuan ekonomi.Meskipun cerita yang diangkat tergolong berat dan mengusung pesan kritik sosial yang dapat dikatakan cukup berat untuk target audiencenya (anak-anak), komik ini justru terkenal di kalangan anak-anak karena aksi kejar-mengejar didalamnya dan aksi lucu lainnya membuat anak- anak tertarik membacanya sampai habis. Hal ini juga berlaku untuk komik- komik Tintin yang lain, cerita yang diangkat Tintin beragam dan mengambil latar belakang tempat di banyak negara. Lain dengan "Benny & Mice", Tintin berbentuk buku komik yang berisi lebih dari 100 halaman perbukunya dan dalam visualnya menggunakan panel yang cenderung lebih banyak, ceritanya lebih kompleks dan berlangsung cenderung lebih lama. Dalam perkembangannya komik Tintin mengalami beberapa perubahan, terutama gaya visualnya, bila dibandingkan, komik yang pertama-tama keluar masih menggunakan warna tunggal, hitam putih, dan sebagai contoh diperbandingan komik Tintin di Soviet dan "Flight 714", selain itu penggunaan panel, proporsi dan balon kata pun semakin berkembang. 2.4. Analisis Data Lapangan 2.4.1. Analisis Profil Pembaca Target Audience dari buku komik ini adalah remaja, dimana menurut Sri Rumini & Siti Sundari masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir (belajarpsikologi.com. par2). Pada masa pertumbuhan dari anak kecil menjadi orang dewasa, ada perubahan-perubahan baik fisik maupun mental, dalam realitanya, isu yang dihadapi kebanyakan remaja adalah masa berkembangnya identitas diri. Remaja mulai sibuk dan heboh dengan problem "siapa saya?" (Who am I ?). Terkait dengan hal tersebut remaja juga risau mencari idola-idola dalam hidupnya yang dijadikan tokoh panutan dan kebanggaan (belajarpsikologi.com. par 14). Pada masa remaja akhir (18-21 tahun), pada umumnya untuk remaja akhir orang tua memberikan kebebasan yang lebih karena si anak telah dianggap dewasa sehingga anak lebih bebas bergaul dengan siapa saja, melakukan apa saja yang mereka sukai meskipun dalam kenyataannya masih ada batasan-batasan yang diberikan orang tua namun tidak begitu mengekang. Umumnya anak remaja akhir yang ada di Surabaya lebih suka berkumpul bersama teman-teman sepermainan, atau bersama pasangannya. Namun juga tidak sedikit yang masih suka membaca komik di waktu senggang. Remaja yang ada saat ini, terutama di Surabaya jauh lebih terbuka, tidak memilih-milih teman berdasarkan ras atau etnisnya, meskipun dalam kenyataannya ada beberapa orang yang masih menjaga jarak. Namun dalam memilih pasangan hidup, campur tangan keluarga masih ada di dalamnya, pada dasarnya hampir semua keluarga menuntut anaknya untuk sebisa mungkin mencari pasangan dari golongan dengan latar belakang etnis atau budaya yang sama. Secara psikologis, kebanyakan remaja Indonesia saat ini selain bergaul tatap muka, juga suka berkomunikasi dengan orang lain melalui media sosial, seperti twitter, facebook, blog, dan chatting. Sebagian remaja masih suka membaca komik karena telah diperkenalkan dengan dunia komik sejak kecil. Alasan kesukaan akan komik pun beragam, mulai dari visual karakter yang menarik, kedetailan gambar, cerita yang menarik dan anekdot-anekdot yang ada di dalamnya. 2.4.2. Analisis Kelemahan dan Kelebihan Dari segi bentuknya, kelemahan komik yang akan dirancang ini adalah bentuknya masih konvensional, berupa buku cetak. Kelebihannya, komik dalam bentuk cetak masih banyak diminati dan dapat didistribusikkan melalui alternatif perantara pembaca. 46 Universitas Kristen Petra Dari segi ide cerita yang diangkat, kelebihan komik ini adalah komik yang akan dirancang ini secara garis besar akan menceritakan tentang perjalanan tiga sekawan ke China. Kelebihan dari segi ide cerita yang diangkat adalah ceritanya unik dan lebih berbobot karena ada pesan yang disampaikan. Kekurangan dari cerita ini adalah ceritanya cenderung terlihat bersifat subyektifkarena berdasarkan pengalaman pribadi pengarangnya bila dibandingkan dengan "Benny dan Mice". Dari segi visual, kelebihannya, komik ini menggunakan gaya timur, seperti manga yang dipadukan dengan gaya gambar asli pengarangnya. Gaya gambar manga dipilih karena dirasa lebih simple dan manga merupakan gaya yang disukai oleh kebanyakan pembaca komik di Indonesia. Kekurangannya, penggambarannya terkesan lebih amatir dibanding komik "Benny & Mice" serta Tintin. Dari segi content message, pesan yang ingin disampaikan oleh komik ini adalahsalah satu kunci untuk keluar dari pemikiran-pemikiran rasialis kembali ke diri masing-masing individu. Kelebihannya adalah, pesan yang ingin disampaikan jarang diangkat dalam media komik sehingga menjadi unik dan tidak biasa. Kekurangannya, karena isu rasial merupakan isu yang cukup sensitif ditambah lagi dengan banyaknya orang dengan pemikiran radikal di Indonesia, pesan itu dapat diartikan dalam pengertian yang berbeda. 2.4.3. Analisis Prediksi Dampak Positif Komik ini diharapkan dapat membuka pemikiran masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama membuka dan menginstropeksi diri, karena pada dasarnya kunci untuk keluar dari pemikiran-pemikiran rasialis kembali kepada individunya masing-masing. 2.5 Simpulan Sejauh ini komik banyak digunakan sebagai media komunikasi kritik sosial dalam masyarakat karena pada dasarnya komik dibuat berdasarkan pengamatan komikusnya akan keadaan sosial di sekitarnya yang dikembangkan melalui imajinasi pengarangnya, isu-isu rasial berkembang dari prasangka dan stereotip 47 Universitas Kristen Petra yang ada dalam masyarakat dan sebenarnya berawal dari kurangnya pemahaman akan Identitas. Identitas itu relatif dan tidak terikat hanya pada tampilan fisik maupun latar belakang budaya seseorang. 2.6 Usulan Pemecahan Masalah Sebagai tindakan atas masalah yang telah ada, buku komik inidirancang, dengan harapan dapat membantu memberikan kesadaran bagi pembacanya akan pemikiran-pemikiran rasis yang diskriminatif. Namun keberadaan buku initidak menjamin dapat merubah pola pikir dan perilaku sebagian masyarakat yang masih cenderung berpikir rasialis, karena pada dasarnya hal itu kembali kepada individu masing-masing, bagaimana individu tersebut menilai dan mengidentifikasi dirinya dan mau membuka diri terhadap perbedaan-perbedaan di masyarakat. master index:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment